Symphony no.3 : Salute d’Amore

“Sebaiknya kalian cepat meninggalkan istana ini.”, kata Kakashi sambil menatap Iruka ”demi keselamatan kalian, karena sepertinya keadaan sudah tak terkendali.”

Iruka terlihat bimbang, “Bagaimana dengan kalian?”

Kakashi tersenyum kecil, “Biar kami yang membereskan mereka. Tidak bijaksana rasanya melibatkan tamu dalam pertempuran seperti ini.”

“Baiklah.”, Iruka mengangguk “Pangeran, ayo kita pergi.”

 

-

 

Salju di Musim Panas

15205060

–Symphony no.3 : Salute d’Amore—

 

-

 

St. Petersburg, Winter Palace

-

Derap langkah bergema di lorong panjang yang dingin tersebut. Seorang pria separuh baya dengan mimik menahan amarah berjalan paling depan dengan segala wibawa yang dimilikinya sebagai seorang Raja, diikuti dengan dua pelayan pribadinya yang melangkah dengan punggung terbungkuk ngeri. Cerberus, bagi dua kaum jelata yang namanya tidak diikuti embel-embel apapun, sang bangsawan berderajat paling tinggi di Rusia itu adalah hewan berkapala tiga dengan taring setajam belati dan sedingin bunga es. Terlebih, ketika sang Tsar sedang dalam keadaan mengerikan begini.

Apakah si bangsawan peduli?

Nyatanya tidak, beliau sibuk dengan pikiran demi pikiran yang bagaikan teroris penyerang otak. Kerutan-kerutan di wajahnya yang merupakan saksi hidup sejarah Rusia seakan berdenyut menandakan kekesalan yang terpendam. Dan andai saja benar kalau sorot mata bisa membunuh, maka malang sekali pelayan wanita yang barusan dipelototinya ketika sedang lewat dengan nampan dan anggur di tangan.

Langkah mendekat, dan kini pemilik rambut hitam tersebut sudah berada di depan salah satu kamar. Tiada basa-basi sebagai pemegang absolutisme negaranya, dan bangsawan berumur kepala lima tersebut membuka pintu tersebut dengan dorongan kuat—suatu hal yang membuat kedua pelayan di belakang beliau makin berkerut takut. Sepasang mata onyx menangkap refleksi anak satu-satunya terbaring di ranjang dengan perban membalut bahu, dan seorang lain berambut keperakan yang agaknya terkejut sambil memandangi dirinya.

”Yang Mulia Ra—” belum sempat si pengiring memberikan salam dan berdiri tegak, suara berat yang dingin keburu memotong perkataannya.

”Bagaimana cara Prancis busuk itu menginjakkan kaki ke istanaku, Kakashi?”

Terhenyak.

Si rambut perak memerlukan beberapa detik untuk mencerna pertanyaan yang terlontar, beberapa detik untuk menemukan jawaban memuaskan, dan detik demi detik seakan berjalan sangat lambat ketika berhadapan dengan orang yang bisa memutuskan kepalamu begitu saja. Kakashi sedang berjuang untuk tidak berkata bodoh semacamnya ’Bagaimana Yang Mulia bisa tahu’ atau ’Prancis yang mana yang Anda maksud? Nona berambut pirang dengan pengiringnya, atau penyusupnya?’—tidak pernahkah Nakhimov ini mendengar pepatah kalau dinding itu bertelinga?

”Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu bicara, Nakhimov.” kesabaran bukanlah anugrah Kristus yang turun kepada sang Raja, dan sejujurnya hal ini membuat Kakashi menghela nafas ngeri, ”bagaimana. Bisa. Hmm?”

Serigala perak itu memberanikan diri menatap langsung pada onyx tersebut, ”Saya tidak tahu menahu tentang penyusup tersebut, Yang Mulia. Tiba-tiba saja mereka menyerang—”

”Yang aku maksud—” satu langkah mendekat, membawa tubuh sang Raja kini hanya berjarak satu meter dari Kakashi, ”—Prancis busuk berambut pirang dan bermata biru itu.” nada dingin itu kini berubah menjadi kemarahan, bagaikan gletser cair yang mengalir, ”wanita bangsawan mana yang ahli pedang, menurutmu?”

Ya, dinding itu bertelinga. Kini Kakashi sangat amat yakin akan hal itu. Dikiranya sang baginda tak akan peduli dengan detail remeh yang terjadi di dalam Winter Palace—terutama ballroom dansa—namun toh ternyata beliau peduli. Inikah yang dinamakan kekhawatiran seorang ayah?

”Dan yang kudengar juga—” perak itu terlambat bereaksi ketika gerakan cepat terjadi, dan mendadak pedang di sarungnya sudah berpindah ke tangan sang Raja. Kakashi sedikit terkesiap ketika ujung belati itu sudah berada satu inci di atas leher Sasuke yang masih terbaring pingsan di atas ranjang, ”—anak idiot ini malah melindungi Prancis busuk itu sampai terluka begini. Benar begitu?”

Dan hari ini, Kakashi belajar kalau kekhawatiran seorang ayah ditambah dengan posisinya sebagai pemimpin Rusia itu bisa berakibat sangat buruk.

”Yang Mulia, saya mohon dengan hormat untuk menyingkirkan pedang Anda.” desis Kakashi dengan nada gugup yang disembunyikan. Kedua pelayan sang Raja diam-diam mengambil beberapa langkah mundur. Si rambut perak mengatur nafasnya, ”putra Anda hanya ingin melindungi seorang wanita, tidak lebih.”

Kekehan angkuh keluar, membuat Kakashi bergidik, ”Apa kau sudah memastikan dia benar-benar wanita dan bukan pangeran Prancis yang menyamar menjadi wanita, hmm?”

Kakashi berani bersumpah kalau ia melihat Sasuke melotot ke arahnya dan memberikan isyarat agar Kakashi tutup mulut mengenai identitas bangsawan wanita tersebut. Segera setelah itu, onyx itu kembali terpejam sempurna—tepat ketika sang Raja menoleh dan menatap kesal pada putranya yang dikiranya masih pingsan. Kakashi mendehem kecil, membuat perhatian Tsar kembali padanya, ”Maafkan pendapat saya, Yang Mulia, tetapi—”

”Permisi, Yang Mulia.”

Suara sopran yang lembut dan sangat feminim terdengar halus dari arah pintu kamar Sasuke. Kakashi memang tidak terlalu dekat dengan wanita yang seharusnya menjadi tunangan dari Itachi itu, namun rasanya ia ingin berterima kasih karena Sakura datang di saat yang tepat. Wanita bergaun merah muda pucat itu masih membungkuk sopan di sana, membuat amarah (dan penyakit hipertensi) sang Tsar Rusia sedikit terobati.

”Mendekatlah.”, komando sang Raja.

Sakura tersenyum dan berjalan mendekati ayah mertua—atau pamannya, sebenarnya, mengingat di pembuluh darah mereka mengalir darah yang sama—nya dan berkata, ”menteri keuangan memohon untuk bertemu. Beliau sudah menunggu kehadiran Anda di salon istana.”, Sakura memberi tahu.

”Hhh…” sang Raja memejamkan matanya dan menghela nafas panjang, ”bagaimana bisa aku melupakan janji dengan Tolstoy.” ia menggelengkan kepalanya frustasi, ”gara-gara kelakuan anak ini..” Tsar itu menggerakkan tangannya, geram, mengakibatkan ujung pedang bergerak menjauhi dan mendekati leher Sasuke—membuat Sakura dan Kakashi menelan ludah karena ngeri, ”…kuharap kalian berdua lebih ketat dalam mengawasi tingkah Itachi.”, ditunjuknya wajah Sasuke dengan pedang tersebut.

Kalimat terakhir sang Tsar dan nama yang terlontar membuat Kakashi hampir memprotes, namun segera Sakura menatap tajam dan menggelengkan kepalanya. Percuma berdebat. Percuma tidak setuju. Percuma ketika kau berhadapan dengan absolutisme. Akhirnya kedua bangsawan tersebut hanya diam ketika Tsar Fugaku Peter III melemparkan pedang tersebut ke lantai dan berbalik pergi meninggalkan kamar Sasuke tanpa satu patah kata lagi. Kedua pelayan malang barusan mengikuti langkah sang Raja, bagaikan anjing yang patuh terbungkuk.

Keheningan terpecah ketika Kakashi menghela nafas lega dan mengambil pedangnya. Disarungkan benda tajam tersebut, menggemakan bunyi logam bergesekan di kamar yang luar biasa besar tersebut, ”Saya rasa tidak seharusnya bercerita sespesifik itu juga, Putri Mahkota.”, Kakashi berkata dengan nada datar dan frekuensi rendah.

”Menurutmu, Kakashi.” keanggunan itu berputar, membuat Kakashi bertatapan langsung dengan sepasang emerald milik Sakura, ”apakah aku sebagai seorang tunangan harus diam saja?” pertanyaan yang terdengar menantang.

Kakashi tak menjawab.

Pantas saja sang Tsar bisa menebak kalau wanita pirang dari Prancis itu adalah putra tunggal Louis XV. Ingatan Sakura memang luar biasa kalau menyangkut detail wajah dan penampilan seseorang, dan ingatan Tsar Fugaku soal wajah-wajah anggota keluarga kerajaan Prancis lebih gila lagi. Cukup tiga dan empat deskripsi saja, dan ia langsung melangkah menuju kamar ini, membuat Kakashi merasa ingin berada di garis depan saja ketibang berlama-lama di dalam istana es ini.

”Sepertinya Tuan Muda masih butuh beristirahat.”, kata Kakashi dengan sopan, ”dan saya dengar Anda memiliki jadwal untuk menemui bangsawan lain?”

Sakura mendelik.

”Aku tidak tahu kalau kau sebegitu hafalnya dengan jadwalku, Kakashi.” Sakura menambahkan senyuman sinisnya dan melangkah ke arah pintu, ”cara yang bagus untuk mengusirku dari kamar tunanganku sendiri.” ada nada perih di sana. Andai saja ia bisa menukar takdirnya. Ya, andai saja. Namun kalau untuk berada di samping Sasuke membutuhkan pengorbanan seperti ini, ia rela. Mungkin. Sepertinya.

Entahlah.

”Saya akan mengabari Anda kalau Tuan Muda sudah sadar.” Kakashi menyusul langkah Sakura dan membukakan pintu bagi Putri Mahkotanya, ”semoga hari Anda menyenangkan.”

Sakura mengangguk dan keluar dari sana, ”Semoga harimu juga menyenangkan.” ia membalas dan melangkah pergi. Walau jauh dalam lubuk hati keduanya, mereka sadar kalau kata ’menyengangkan’ tersebut tak pernah mampir dalam kehidupan mereka. Kakashi menggelengkan kepalanya, dan menoleh pada Sasuke yang sudah duduk di ranjang dengan tatapan kosong. Serigala perak itu berjalan mendekati pangerannya dan memulai ocehan standardnya.

”Ha, bagus juga akting pura-pura tidur Anda. Dan Tuan Muda, jangan salahkan saya karena nasihat pagi ini akan lebih panjang daripada hari—” namun ucapan dengan suara bass itu segera terpotong oleh satu kalimat dari Sasuke.

”Sampai kapan Ayah akan memanggilku dengan nama kakak, Kakashi?”

Mendengar pertanyaan itu, Kakashi terdiam.

-

… Snow in the Summer …

-

Paris, Château de Versailles

-

“Ayolah, Hinata.” Tuan Muda pirang itu masih bersikeras ingin memakaikan seuntai kalung bertatahkan swarovski putih di leher tunangannya, “perhiasan ini cocok untukmu. Lihatlah, sesuai dengan warna matamu.”

Dan sang tunangan, masih berikeras menolak untuk memakai kalung seharga sekian ratus ribu livre(1) tersebut, “Tidak, tidak usah, Pangeran.. Letakkan itu..”

Naruto sedikit cemberut dan meletakkan kalung tersebut kembali ke kotak perhiasan. Pagi itu suasana di salon Versailles menjadi ramai karena putra mahkota Prancis mendadak datang ke ruangan tersebut. Ya, Naruto bukanlah tipe pesolek dan kurang suka berkumpul dengan bangsawan lainnya, karena itulah kehadirannya cukup membuat orang-orang di sana terkejut. Terlebih, Naruto pakai acara membawa-bawa kalung segala bagaikan tukang perhiasan.

“Kenapa tidak mau, sih?” ia bertanya dengan nada agak kesal, “aku ‘kan bosan melihatmu dengan kalung itu lagi, itu lagi.”, komentar sang pangeran dengan nada kekanakan—sukses membuat pada pelayan menyembunyikan tawanya.

Mendengar alasan Naruto, wajah Hinata agak memerah, dan langsung menggelengkan kepalanya. Dengan anggun ia berdiri dan menutup kotak perhiasan agar tidak tergoda akan kilau swarovski tersebut, “Saya…sudah memiliki kira-kira enam puluh kalung, Pangeran.” Hinata agak takut menyinggung, “jadi…mohon sampaikan maaf saya pada Tuan Boheimer karena menolak membeli kalung ini.”

“Aku yang belikan, deh..”, dan sang Pangeran masih berjuang sambil mengacung-acungkan kotak di tangannya itu.

“Ti…tidak boleh.” Hinata menggeleng, “Anda harus ingat kalau uang yang Anda pakai adalah hasil pajak rakyat. Hasil keringat rakyat.” sang Putri Mahkota kembali tersenyum, “jadi, tidak boleh asal dipakai, apalagi untuk membeli kalung semahal ini. Uang dari rakyat harus didayagunakan untuk kepentingan mereka juga.”

Mendengar penjelasan tunangannya yang singkat namun sangat bermakna, Naruto hanya bisa melongo sekian lima detik—dan ketika itu, rasanya Hinata ingin memanggil bangsawan bernama Allain untuk melukisnya. Reaksi kedua adalah menggaruk kepala yang mengakibatkan rambut pirangnya sedikit berantakan, dan terakhir Naruto hanya bisa tertawa garing. Ia sudah menyangka Hinata akan menolak, ia hanya tidak memprediksi kalau alasan penolakan Hinata ternyata sebijaksana itu.

“Ah, kalau Hinata bilang begitu…”

Suara tawa yang ditahan, atau malah menyerupai dengusan terdengar dari luar salon. Jenis suara dan nada yang Naruto kenal, membuatnya menoleh dan langsung meletakkan kotak perhiasan di meja rias lalu berkacak pinggang, ”Tak perlu menertawakanku seperti itu ’kan, Iruka.” ujar sang Pangeran dengan wajah malu.

”Hahaha.. Maaf, maafkan aku, Putra Mahkota.”, Iruka membungkuk sopan, ”maaf saya lupa memberikan salam pada Putra dan Putri Mahkota.” setelah membungkuk, Iruka berjalan mendekati sepasang muda-mudi yang sudah sangat dekat dengannya itu, ”biar saya yang mengembalikan kalungnya ke kediaman Tuan Boheimer.” tawarnya sambil tersenyum pada Naruto.

”Ah, jadi merepotkan Anda, count Iruka.” Hinata tersenyum tak enak pada pengiring tunangannya tersebut sebelum kembali duduk untuk melanjutkan perawatan rambutnya. Iruka menggeleng kecil dan tertawa.

”Tentu tidak merepotkan, Putri Mahkota.” jawabnya santun.

Naruto, masih dengan raut cemberutnya, menyerahkan kotak tersebut ke tangan Iruka dengan hati setengah tak rela, ”Yah, padahal aku suka sekali dengan kalung itu. Kenapa Hinata tidak mau memakainya, sih..” ia mengeluh, membuat sang tunangan tertawa dengan ekspresi geli dan Iruka yang kini memegang kotak perhiasan itu geleng-geleng kepala karena gemas.

”Kalau Yang Mulia Putri Mahkota menolak memakainya—” suara pemuda lain yang bersumber dari arah pintu salon sukses membuat Naruto sedikit terlonjak, ”—bagaimana kalau Anda saja yang memakainya, Pangeran?”

Bola mata biru itu membulat sempurna melihat sosok bertubuh hampir sama dengannya itu. Salah seorang petinggi militer yang juga seorang bangsawan asal Prancis itu berdiri dengan tangan menyilang di dada. Wajahnya berekspresi datar, bola mata hijau zaitun dan rambut merah gelap dipotong sangat pendek itu merupakan kombinasi yang sangat jarang Naruto lihat setahun terakhir di Versailles. Spontan saja sang Pangeran berlari ke arah pemuda yang baru datang itu dan memeluknya.

Mendadak ia lupa tata krama.

”Huwaaa!!! Gaara!!!” teriak Naruto tepat di telinga sahabat masa kecilnya itu, ”kapan kau datang? Kenapa tidak mengabari? Bagaimana dengan tugasmu di Swedia? Akh, kau sangat jarang mengabariku, tahu!”

”Ugh..” memang, sama sekali tidak terjadi perubahan pada raut wajah Gaara Valois d’Polastrone, namun Iruka bisa melihat kalau bangsawan yang satu itu jengah terhadap kelakuan Naruto yang sangat kekanakan. Gaara menghela nafas, ”akan saya jawab satu per satu, Pangeran. Sekarang, mohon lepaskan saya…”

Masih dengan wajah kelewat ceria, Naruto melepaskan pelukannya dan cengar-cengir di hadapan Gaara (yang masih belum mengubah ekspresinya). Merasa kurang sopan kalau ia langsung kabur bersama Naruto, pemuda berambut merah itu melirik Hinata, ingin menyempatkan diri menyapa wanita dengan kedudukan tertinggi di istana tersebut. Naruto menganguk, menandakan ia mengizinkan Gaara menyapa tunangannya, dan Kolonel pasukan Infantri itu langsung mendekati Hinata. Sementara pemilik bola mata perak keunguan itu sudah menyapanya lebih dahulu dengan tatapan mata lembut dan senyuman khasnya.

”Selamat pagi, Putri Mahkota.” Gaara berlutut di hadapan wanita Austria yang sedang duduk itu, ”syukurlah Anda terlihat sehat.”

Hinata tersenyum dan berdiri dari kursinya, ”Selamat pagi, monsieur Gaara. Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabar Anda?”, tanya sang Putri Mahkota sambil mengulurkan tangannya. Segera Gaara menyambut uluran tangan itu dan memberikan kecupan di punggung tangan gadis molek tersebut sebagai tanda penghormatan. Hinata merasa wajahnya agak memerah, namun ia berusaha keras untuk tidak melakukan hal bodoh ataupun salah tingkah.

”Puji Tuhan keadaan saya sangat baik.”, jawab Gaara sambil menatap mata Hinata yang berada jauh di atasnya. Gadis berambut biru itu melebarkan senyumnya, pertanda ada kebahagiaan ganjil ketika menemukan sosok Gaara pagi itu.

”Ah, bangkitlah.” perintahnya dengan nada halus, ”sering-seringlah berkunjung ke Versailles. Kapan-kapan aku ingin mendengar cerita mengenai Swedia, kalau kau tidak keberatan.” Hinata menoleh pada Naruto dan tersenyum, ”aku yakin Putra Mahkota juga ingin mendengar ceritamu.”

Gaara mengangguk dan berdiri di hadapan Hinata, ”Suatu kehormatan, Putri Mahkota.” jawabnya pendek, ”saya akan lebih sering berada di Versailles, berkenaan dengan perintah dari Yang Mulia Raja.” tambah Gaara.

Sementara mereka berdua terlibat dalam pembicaraan, Iruka bergeser dan merendahkan suaranya agar hanya bisa didengar oleh pangerannya, ”Anu, Tuan Muda. Anggaplah saya sedang berprasangka buruk, tapi—”

Naruto meletakkan jari telunjuknya di bibir, dan memberikan isyarat agar Iruka mengikutinya keluar. Sebelum itu, Naruto memanggil sahabatnya itu, ”Gaara.” ia tersenyum ketika Gaara menoleh dan menatapnya, ”kutunggu di Bassin d’Apollon(2), lalu kita berkuda, setuju?”

Gaara mengangguk mengerti, ”Baiklah. Saya segera menyusul.”

”Baiklah.” Naruto mengangguk dan keluar dari salon. Iruka yang sedikit salah tingkah, membungkuk hormat pada kedua bangsawan di sana dan cepat-cepat mengekor Naruto dengan ekspresi bingung.

”Tuan Muda..”

Naruto melambatkan langkahnya setelah yakin kalau mereka cukup jauh dari salon, ”Aku mengerti maksudmu tadi, Iruka.” ujar Naruto sambil menatap mata coklat gelap pengasuh masa kecilnya itu, ”karena itulah aku tidak bisa mencintai Hinata.”

Iruka hanya diam dan tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk kecil pertanda bahwa ia mengerti akan keadaan yang sulit tersebut. Naruto menghela nafas, mengangkat bahu dan kembali mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Iruka.

”Bagaimana bisa aku mencintai wanita yang juga dicintai oleh sahabatku sendiri? Sahabatku, yang bahkan tidak akan pernah bisa untuk memiliki Hinata seutuhnya?” tanya Naruto dengan bisikan halus bagaikan angin. Tidak kepada Iruka, maupun dirinya. Entah pada siapa.

’Dan kenapa bola mata onyx itu masih belum bisa aku lupakan?’

-

… Snow in the Summer …

-

St. Petersburg, Winter Palace

-

Ia sama sekali tidak mau menghabiskan hari-harinya di tengah badai salju Siberia dan gelar kebangsawanannya dicopot. Terlebih lagi menjalankan kerja paksa dan ditendang dari silsilah dinasti Romanov. Karena itulah, Sasuke hanya diam dan menjawab bentakan-bentakan dari ayahnya dengan anggukan atau gelengan. Berhadapan dengan Tsar yang sedang murka memang sebaiknya cari aman saja dengan tidak membantah. Mendadak rasa sakit di punggung dan bahunya menghilang begitu saja—kini telinganya yang perih.

Kakashi sengaja tidak diperbolehkan masuk ke ruangan ini, dan sejujurnya hal ini membuat Sasuke makin merasa tertekan sekalipun tidak diperlihatkannya lewat ekspresi wajah. Kini ia tidak tahu harus kesal atau berterima kasih pada Sakura—kesal karena wanita itu memberikan informasi pada ayahnya, atau berterima kasih karena kini Sakura lah yang berdiri di belakang ayahnya, menenangkan dan menepuk-nepuk punggung pria separuh baya tersebut. Sasuke tahu benar kalau Tsar Fugaku ini sangat menyayangi calon menantu perempuannya itu, dan hanya Sakura satu-satunya orang yang bisa meredakan amarah ayahnya.

Sasuke melirik jam dinding—dua jam sudah berlalu.

Sepertinya menjadi Tsar Rusia bukanlah cita-cita yang buruk, kau bisa menghabiskan dua jam untuk menceramahi anakmu dan menunda rapat bersama dengan menteri dan bangsawan penting lainnya.

”Kuharap semuanya kau camkan baik-baik.” akhirnya kalimat penutup ini keluar juga dan membuat Sasuke sedikit lega, “kau boleh kembali ke kamarmu dan Ayah mohon kau tidak berbuat lebih bodoh dari ini.”

Sasuke mengangguk, “Aku mengerti.”

“Dan satu hal lagi.” sang Tsar membenarkan posisi duduknya dan menepuk punggung tangan Sakura, pertanda ia sudah baik-baik saja. Pria itu mengambil surat bersegel kerajaan Austria dan menyodorkannya, membuat Sasuke langsung mendekat dan mengambil surat tersebut, ”surat resmi agar Rusia mengirimkan perwakilan untuk menandatangani perjanjian pengiriman bantuan militer pada ekspedisi Amerika. Konfrensi akan dilaksanakan dua minggu lagi di Austria. Aku ingin kau mewakiliku.” perintah sang Tsar sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya.

Sasuke membuka surat yang segelnya sudah terbuka itu, memahami isinya dan mengangguk tanda persetujuan. Ia sangat mengerti kalau ayahnya tidak akan mau menginjakkan kaki ke negara yang merupakan sekutu Prancis tersebut—terlebih lagi Tsar, yang mengurusi negara sendiri saja sudah pusing. Seharusnya ini pekerjaan duta besar atau menteri luar negeri, namun—ya sudahlah, Sasuke menganggap ini hukuman dan jalan yang bagus untuk mengembalikan kepercayaan Tsar padanya.

”Baik.” jawaban singkat.

”Omong-omong, aku membutuhkan Kakashi di Rusia pada saat kau menghadiri pertemuan itu.” ucap sang Raja sebelum membiarkan Sasuke kembali ke kamarnya, ”jadi, kau akan pergi bersama petinggi militer lain. Kurasa aku sudah menyuruhnya menemuimu.”

Mendengar hal itu, dahi Sasuke langsung berkerut, ”Tidak ada yang menemuiku hari ini.” jawabnya bingung. Bagus sekali, kini ayahnya sudah menyuruh mata-mata lain untuk mengawasinya.

”Mungkin belum.” helaan nafas berat keluar dari Tsar, ”kau boleh kembali ke kamarmu sekarang.”

Sasuke mengangguk dan berbalik menuju pintu. Ketika membukanya, ia menemukan Kakashi—sepertinya sedang menguping—tak jauh dari pintu ruangan pribadi ayahnya. Sasuke menyeringai pada Nakhimov itu dan berbalik, ”Selamat tidur, Ayah.” sapanya sebelum benar-benar pergi dari sana.

Sang Tsar tidak menoleh, masih memosisikan dahi di atas katupan tangannya pertanda ia lelah dan ingin segera beristirahat. Namun terkadang kedudukannya tidak memberi izin untuk pergi tidur selekas itu. Akhirnya pria separuh baya itu membalas dengan gumaman, namun cukup bergema.

”Selamat tidur, Itachi.”

Lagi, Kakashi hanya bisa menghela nafas ketika melihat perubahan ekspresi Sasuke. Seringaian itu menghilang, digantikan luka gores yang menyayat hati dan harga diri tuan mudanya sekaligus. Namun tentu, Sasuke tidak ingin mengambil pusing ataupun memikirkannya terlalu larut. Pemuda itu memutuskan untuk menutup pintu di hadapannya dan berbalik ke arah kamar pribadinya. Kakashi, tanpa bicara satu patah katapun, mengekor di belakang dengan jarak sekitar satu meter. Pilar, lukisan, lampu gantung, ukiran dinding, mural di langit-langit, detail demi detail istana menyambut dan ditinggalkan sampai akhirnya Sasuke kembali berhadapan dengan kamarnya.

Tunggu.

Onyx itu menyipit ketika menemukan seorang seorang pemuda berambut coklat gelap panjang sedang berdiri menyandarkan punggung di dinding. Sasuke menghentikan langkahnya dan menatap angkuh pada pemuda kelahiran Austria tersebut. Pemuda bermata lavender itu agaknya menyadari kalau kehadirannya sudah disadari oleh sang Putra Mahkota, segera ia membenarkan posisi berdirinya dan membungkuk hormat pada Sasuke.

”Selamat malam, Yang Mulia Putra Mahkota.” sapa sang pemuda Austria tersebut, ”ada yang perlu saya sampaikan kepada Anda.”

Sasuke mengerenyitkan dahinya bingung. Diam-diam ia melirik kepada Kakashi, dan Nakhimov itu hanya bisa angkat bahu pertanda tidak mengerti.

”Ada keperluan apa?” tanya Sasuke langsung. Yang dirinya tahu dari orang ini adalah, ia seorang pengkhianat negaranya sendiri. Pemuda yang memberikan informasi mengenai politik dan kemiliteran negaranya (dan juga Prancis secara garis besar) kepada sang Tsar. Sasuke tahu, kerajaannya dan ayahnya, adalah tipe licin dan licik, yang akan melakukan apa saja demi bisa menundukkan Prancis. Entah ia harus suka atau tidak suka dengan pemuda ini—kalau ia bisa dengan mudah mengkhianati negaranya sendiri, bukan tidak mungkin ia menjual informasi mengenai Rusia ke negara lain, bukan?

Sang pemuda bangkit, ”Saya Neji von Habsburg, pangkat saya adalah Kolonel dari divisi Kavaleri Pengawal Elit Kerajaan. Mungkin Yang Mulia Tsar sudah memberi tahu Anda, sayalah yang akan mengiringi kepergian Anda ke Austria.”

Sasuke mendadak mengerti.

Seharusnya ia sudah bisa menduga kalau pengkhianat inilah yang akan mengantarnya, mengingat Neji berasal dari Austria.

”Oh.” hanya itulah yang terlontar dari bibir Sasuke, ”baiklah.”

Neji kembali membungkuk, ”Maaf karena saya terlambat memberi tahu, semoga tidak mengganggu Anda.” Kolonel tersebut bangkit dan mohon diri, ”semoga tidur Anda nyenyak, Putra Mahkota. Saya permisi dahulu.”

Sasuke mengangguk dan membiarkan Neji berbalik pergi. Namun diawasinya langkah demi langkah tersebut sampai pemiliknya menghilang di belokan.

”Menurutmu, Kakashi?” tanya Sasuke, meminta pendapat pada pengiringnya.

Yang ditanya hanya bisa angkat bahu, ”Anda tahu ayah Anda, Tuan Muda.” komentarnya dengan nada datar, ”pemuda itu akan melakukan apapun untuk melihat kehancuran negaranya sendiri. Saya rasa, ada rencana terselubung dengan mengutus dia ke Austria.” Kakashi mencoba memprediksi, walau ia tak bisa membaca apa yang ada di dalam otak Tsar-nya.

Sasuke menghela nafas dan mengangguk. Peduli apa dia dengan negara sekecil Austria. Ia membuka pintu kamarnya, hendak memasuki ruangan pribadinya tersebut ketika otaknya mendadak teringat sesuatu, ”Ah, Kakashi.” ia mendelik pada Kakashi dalam posisi membelakangi si rambut perak, ”apakah Prancis ikut serta dalam penandatanganan konfrensi soal Amerika ini?”

”Tentu.” Kakashi mengangguk yakin, ”seluruh negara Eropa Barat ambil bagian, dan Prancis salah satu pencetusnya. Tentu saja mereka akan mengirimkan perwakilannya.” jawab sang pengiring, ”eh, tunggu. Tuan Muda, Anda tidak bermaksud untuk—”

”Selamat malam, Kakashi.” buru-buru Sasuke menutup pintu kamarnya, meninggalkan pria yang jauh lebih tua darinya itu mendengus pelan karena belum selesai bicara. Dan memang, Sasuke sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Kakashi—ia tak ingin berdebat lebih panjang mengenai Putra Mahkota bermata biru tersebut. Pemilik onyx itu mengunci pintu di belakangnya, dan berjalan ke arah Stradivarius biru peninggalan pamannya, Obito. Kalau sampai ia memainkan biola itu di hadapan Kakashi—

—entahlah, Sasuke tak berani membayangkan.

Diambilnya penggesek biola tua tersebut, mempertemukannya dengan senar-senar yang sudah ditekannya, menghasilkan nada-nada indah yang membentuk sebuah simfoni melankolis karya Edward Elgar, Salute d’Amore. Sasuke memejamkan matanya, tak ingin memikirkan kalau-kalau ayahnya mendengar dan membentaknya karena berani mengalunkan lagu klasik Prancis di tanah negara tirai besi. Ya, Sasuke tidak ingin peduli, setidaknya sampai simfoni itu selesai.

’Kita akan bertemu lagi.’ diam-diam, pemuda itu tersenyum ketika tempo lagu tersebut bertambah, ’ya, Tuan Muda calon Louis XVI, kita akan bertemu lagi.’

 

… bersambung …

 

(1) Livre : mata uang yang digunakan Prancis sampai dengan tahun 1790-an, kalo nggak salah setelah revolusi Prancis, mata uang diganti dengan France. Sekarang sih udah Euro, kan?

(2) Bassin d’Apollon : air mancur super duper mewah yang terdapat tepat di tengah-tengah taman istana. Ada track-track gitu di sana, dan kadang2 selirnya si Louis XIV suka berkuda lewat track2 itu~

Gile berapa lama ni cerita kagak saya apdet yak? :headwall:

>> ngapdet ni cerita karena merasa tersaingi ama Arialieur yang seenaknya jadi traitor dan ngapdet sendirian, cheeee~~~

Karena saya keseringan Role Play, jadi bahasa fanfiction pun agak-agak kebawa, bawaannya pengen bikin sudut pandang satu orang melulu, haha. Oke, di chapter ini saya akhirnya memunculkan dua orang lagi, Gaara ama Neji. Tapi saya ragu bakal dipairing apa enggak, dan entah kenapa malah jadi GaaHina???? Sebenarnya otak udah kepikir buat bikin Side Story NejiHina pulak. Astaga, saya demen amat yak ama Hinata. Ya sudahlah =.=a

>> masih mikir gimana Shino ama Kiba bisa ambil peran. Soal ItaDei? Tenang, tenang, sodara-sodara, semua ada gilirannyah XDDDD

Komentar? Masukan? Saran? Tebakan? Silahkan dilayangkan via review.

Thanks for reading :)

15205060 – Sabaku no Ghee

~ by Broken Porcelain on September 6, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.